Langkah preventif ini menjadi bukti kesiapsiagaan Polri dalam mengantisipasi musim kemarau, guna memastikan wilayah hukum Polsek Panipahan tetap hijau dan bebas dari kepulan asap.
Bergerak bersama perangkat kepenghuluan, tokoh masyarakat, dan unsur terkait, tim gabungan menyisir sejumlah titik krusial yang dinilai rawan Karhutla. Mulai dari lahan kosong tak bertuan, area semak belukar yang mengering, hingga kawasan perkebunan produktif milik masyarakat setempat.
Selain memantau kondisi lapangan, patroli ini juga difungsikan sebagai sistem deteksi dini (early warning system) untuk memetakan potensi munculnya titik api (hotspot).
Di sela-sela patroli, Kapolsek Panipahan IPTU Subiarto A. Tampubolon menegaskan bahwa perang terhadap Karhutla tidak akan bisa dimenangkan oleh aparat sendirian. Dibutuhkan kepedulian dan peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat.
"Kami mengimbau dengan sangat agar masyarakat tidak lagi menggunakan cara membakar saat membuka atau membersihkan lahan. Jika melihat ada aktivitas pembakaran atau menemukan titik api sekecil apa pun, segera laporkan ke kami agar bisa langsung ditangani secara cepat sebelum meluas," tegas IPTU Subiarto.
Tidak sekadar berpatroli, personel Polsek Panipahan juga melakukan pendekatan persuasif dengan mengedukasi warga mengenai dampak fatal Karhutla. Masyarakat diingatkan kembali bahwa kabut asap tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga melumpuhkan roda perekonomian dan memicu gangguan kesehatan akut, terutama ISPA.
Hal-hal kecil yang kerap diabaikan, seperti kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di area kering, turut menjadi catatan penting yang diingatkan petugas kepada warga.
Hingga patroli berakhir, situasi di wilayah Panipahan Laut dilaporkan aman, tertib, dan kondusif. Berkat pengawasan ketat ini, petugas tidak menemukan adanya titik api maupun aktivitas pembakaran lahan. Masyarakat pun menyambut baik kehadiran petugas yang turun langsung ke lapangan.
Ke depan, Polsek Panipahan berkomitmen untuk terus mengintensifkan patroli serupa dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah kecamatan serta desa. Sinergi berkelanjutan ini diharapkan mampu memupuk kesadaran kolektif warga, demi mewujudkan Rokan Hilir yang bebas asap sepanjang musim kemarau.(Fauzi)
