Mirisnya, jalur ini sempat menjadi sorotan nasional di berbagai media televisi setelah memakan korban jiwa dan menyebabkan seorang warga mengalami cacat permanen. Pasca-insiden maut tersebut, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir sempat mengambil tindakan cepat dengan membangun jalan sepanjang 25 meter menggunakan anggaran Swakelola pada akhir tahun 2025.
Kala itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Rokan Hilir berjanji akan menuntaskan sisa pembangunan jalan tersebut secara menyeluruh pada tahun anggaran 2026. Namun hingga pertengahan tahun ini, janji tersebut dinilai masih menjadi "angin surga" bagi masyarakat setempat.
Bertaruh Nyawa dan Ditandu Kain Sarung
Kekecewaan mendalam diungkapkan oleh salah seorang warga setempat pada Senin (29/6/2026). Ia mempertanyakan keseriusan Pemkab Rohil yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pembangunan.
“Jalan semakin hancur, bangunan belum masuk sampai saat ini. Apakah harus menunggu ada korban jiwa lagi baru jalan ini akan dibangun?” ujarnya dengan nada kesal.
Ia membeberkan realita pahit yang harus dihadapi warga sehari-hari. Akibat akses jalan yang mustahil dilalui kendaraan roda dua, warga yang mengalami sakit parah dan membutuhkan pertolongan medis darurat ke Puskesmas Panipahan terpaksa harus ditandu secara manual.
“Kalau ada yang sakit, terpaksa kami gotong bersama-sama menggunakan kain sarung dan kayu dengan berjalan kaki. Kendaraan roda dua sama sekali tidak bisa lewat karena kondisinya hancur total,” jelasnya.
Anak Sekolah Terpaksa Diliburkan Saat Pasang Tinggi
Penderitaan warga kian klimaks saat memasuki musim pasang air laut tinggi. Sepanjang Jalan Raja Ali Haji kerap terendam banjir rob. Alhasil, keselamatan anak-anak yang ingin menuntut ilmu setiap hari menjadi taruhannya.
Untuk bisa sampai ke sekolah, anak-anak terpaksa harus digendong oleh orang tua mereka menerobos genangan air. Bahkan, tidak jarang orang tua memilih untuk meliburkan anaknya demi menghindari bahaya yang mengancam keselamatan.
“Kalau pasang tinggi, anak-anak pergi sekolah harus digendong orang tuanya. Kadang ada juga yang terpaksa meliburkan anaknya karena jalannya terlalu berbahaya,” ungkap warga tersebut.
Desak Dinas PUPR Rohil Segera Bertindak
Mewakili jeritan hati masyarakat Teluk Pulai, ia berharap penuh agar Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir, khususnya Dinas PUPR, tidak menutup mata dan segera merealisasikan janji pembangunan yang telah disepakati untuk tahun 2026 ini.
Masyarakat meminta pemerintah bertindak sebelum jatuh korban berikutnya di jalur tengkorak tersebut.
“Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir kembali memperhatikan nasib kami. Tolong segera bangun jalan kami yang semakin parah ini, jangan sampai jatuh korban selanjutnya baru pemerintah sibuk membangun,” tutupnya penuh harap.(Fauzi)
